Spread the love

Jakarta, – Muhammad Tawfiq dikeluarkan dari partai Grendra.

Perpecahan itu berdasarkan hasil Sidang Kehormatan Partai Gerindra (MKP) pada Selasa (6/6/2022).

Namun, tanda-tanda M. Taupik yang mulai menyapu Grand Grand Party sudah terlihat sejak dua tahun terakhir.

M. Tawfiq yang memimpin DPD Grendra DKI Jakarta selama 12 tahun, perlahan tapi pasti kehilangan kekuasaan. situs judi terpercaya

Akses Ahmed Raza Patria ke DKI diyakini sebagai biang keladinya.

Pria yang akrab disapa Ariza ini mengundurkan diri dari DPR RI pada 15 April 2020 untuk menjabat Wakil Presiden DKI. Ia mengisi posisi yang ditinggalkan Sandiaga Uno.

Baru enam bulan menjabat Wakil Presiden, Ariza menggantikan M. Tawfik di Jerindra DKI.

Ariza diangkat menjadi Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta pada 18 Oktober 2020.

Mekanisme pemilihan tidak dilakukan secara musyawarah, melainkan diatur langsung oleh Gubernur DPP Grendra Prabowo Subianto.

Saat itu, tidak jelas alasan Prabowo mencopot M. Tawfik. Ariza mengatakan perubahan hanyalah bentuk pembaruan.

“Sudah lama saya dilantik (perwakilan DPD Gerindra DKI Jakarta),” kata Jaksa Agung Prabowo dalam kasus ini, memutuskan perlu dilakukan pembaharuan. di balai kota. , Oktober 2020.

Saat itu, Ariza juga memuji M. Tawfiq sebagai tokoh yang mengangkat Grand Grand Party di wilayah metropolitan.

Ariza mengatakan, “Tawfik telah menorehkan banyak prestasi, terutama memenangkan pemilihan kepala daerah (2012 dan 2017) dan meningkatkan jumlah kursi di Republik Demokratik Kongo.”

Sekali lagi Ariza enggan membeberkan mengapa M. Tawfik dicopot dari jabatan pimpinan DRC.

Dia hanya mengatakan bahwa mengubah “orang” adalah hal biasa di partai.

Terkait pemberhentian Tawfik, tidak ada alasan khusus kecuali kesempatan bagi anggota lain untuk menjadi Wakil Presiden Republik Rakyat Demokratik Korea.

”Itu wajar seperti pihak lain. Beri saya satu kesempatan lagi,” kata Reda.

Tewfik mengundurkan diri sebagai wakil ketua Republik Rakyat Demokratik Korea, tetapi Reza mengizinkan seorang politisi senior untuk tetap berada di partai Grendra.

Setelah dipecat dari pimpinan DPRD, Toufik semakin tidak nyaman dengan partai Grendra. Dia bahkan secara terbuka menyatakan keinginannya untuk perubahan partai.

Setelah Girendra pergi, Tupic berencana untuk pindah ke partai yang tampaknya memiliki kecenderungan nasionalis, seperti Nasdim.

Salah satu alasannya, Nasdem cenderung mendukung Anies Baswedan Jakarta, Gubernur DKI yang akan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden 2024 mendatang.

Namun sebelum berganti partai, Toufik digulingkan oleh Dewan Kehormatan Partai Grendra.

Wakil Presiden MKP Gerindra Wihadi Wiyanto menjelaskan, salah satu alasan pemecatan Taufik adalah ketidaksetiaannya kepada partai simbolik Ras Garuda.

Wehady juga mempertanyakan kinerja Tawfiq sebagai ketua DPD DKI Jakarta yang gagal mendirikan kantor DPD di Pilpres 2019 dan gagal memenangkan Prabowo Subianto di ibu kota.

Taufik vs Ariza

Pengamat politik Universitas Al-Azhar Ujang Kumarudin mengaku sudah lama melihat tanda-tanda perpecahan di tubuh Partai Gerindra DKI.

Dia menilai divisi internal Gerindra DKI terpecah setelah kedatangan Ariza.

Ojang kepada , Rabu (8/6/2020). 2022).

Pada akhirnya, DPP Jerendra yang dipimpin Prabowo berpihak pada Ariza.

Pasalnya, Ariza dinilai loyal dan sejalan dengan minat Jerendra untuk mengembalikan Prabowo Subianto di Pilpres 2024.

Sementara itu, Tupic telah secara terbuka menyatakan dukungan untuk Anis Baswedan dan sedang menyusun strategi.

Ojang menilai mundurnya Tewfik akan sangat merugikan Grindra yang berambisi besar memenangkan pemilihan umum 2024.

Pasalnya, Tewfik memiliki basis penggemar yang besar di ibu kota dan melakukan pekerjaan yang sangat baik mengelola Gerindra DKI.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.